Peter Pan dan Cinderella Syndrome - James Education Center

 

Peter Pan dan Cinderella Syndrome

Apa itu Peter pan dan Cinderella syndrome? Menghindari perceraian dini karena Peter Pan Syndrome, Cinderella Complex dan Adversity Quotient Ditentukan Lewat Pola Asuh di Rumah….

Semua berawal dari kasih sayang orang tua dan over proteksi yg tidak pada tempatnya sejak dini, sehingga membunuh kemandirian anak dan membuat rendahnya Adversity Quotient (kemampuan untuk survive dalam menghadapi masalah kehidupan). Yg pada gilirannya akan mencetak laki-laki dengan Peter Pan Syndrome, yaitu yg tidak pernah dewasa. Atau anak perempuan dengan Cinderella Complex yg mengharap ‘prince charming’ datang utk menyelamatkan-nya, karena tak mampu menghadapi kesulitan hidup akibat terlalu dilindungi.

  • Pernahkah Anda menyuapkan makanan pada anak Anda yg sudah SD karena kuatir dia sakit jika tidak makan?
  • Atau pernahkah Anda melihat anak SD berjalan melenggang sementara Ibu/pengasuhnya membawakan tas mereka?
  • Atau jika Anda ditelepon anak Anda dari sekolah karena buku PRnya ketinggalan, apakah Anda akan tergopoh-gopoh datang ke sekolah utk mengantarkannya, alih-alih menyuruhnya pulang atau membiarkannya disetrap karena kelalaian.
  • Apakah Anda membuka satu per satu buku Anak untuk mencari PRnya, kemudian mengoreksi PR dengan tangan Anda bahkan menolong membuatkan supaya nilainya bagus.

Jika hal di atas terjadi pada Anda, maka waspadalah, Anda sedang menjerumuskan karakter diri Anak anda. Kasih sayang yang Anda berikan akan merusak kemampuannya untuk survive di masa depan.

Ciri dan Pembentukan Karakter

Ciri-ciri anak dengan Peter Pan Syndrome adalah mereka terbiasa hidup nyaman tanpa beban tanggung jawab, tidak suka bekerja keras, kegiatannya banyak main-main, tidak pernah punya tanggung jawab, tidak bisa mandiri/dewasa, tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko, kurang percaya diri, enggan hidup sendiri karena mengalami ketergantungan pada orang lain.

Pada anak-anak dengan pola asuh yg potensial menimbulkan Peter Pan Syndrome biasanya cenderung: suka menentang, pemberontak, susah punya komitmen, pemarah (marah jika kemauannya tidak terpenuhi), tidak bisa menerima kritikan, mudah sakit hati, terlalu cinta pada diri sendiri, senang memanipulasi dan menolak hubungan dengan lawan jenis. Akibatnya mereka punya masalah tidak tahan terhadap invasi kekuasaan dari lingkungan, mereka tidak mampu berpikir tentang dirinya dan apalagi menangani problem yg menimpa. Karena sejak kecil semua masalahnya diatasi bunda, ayah atau pengasuhnya.

Cinderella komplex biasanya menimpa anak wanita yg selalu dilindungi atau yg hidupnya dalam keadaan tertekan. Ia mengharap ada figur yag dapat menyelamatkannya di setiap masalah yg dihadapi. Tanpa berusaha untuk berjuang dengan mengerahkan segenap kemampuan.

Dengan pola asuh salah, orang tua potensial membentuk karakter laki-laki dengan ciri Peter Pan akibat dimanja dan dibela setiap melakukan kesalahan, dilindungi dan dituruti keinginannya. Sementara anak perempuan dengan ciri Cinderella tidak dididik untuk menerima kenyataan hidup dan diberi banyak mimpi tentang kisah happy ending tanpa tahu bahwa happy ending adalah reward dari a long and winding journey of struggling in life.

AQ (Adversity Quotient)

Kedua karakter ini, dengan Peter Pan dan Cinderella Syndrome, di masa depan akan mengkontribusi dunia dengan generasi yang memiliki AQ (Adversity Quotient) sangat rendah. Apabila keduanya bertemu dan menikah besar kemungkinan perceraianlah yg terjadi atau never have happy ending. Karena mereka tidak memiliki cukup AQ untuk mengupayakan kehidupan yg lebih baik. AQ adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Dengan AQ ditentukan kadar kemampuan orang mengatasi kemelut tanpa menjadi putus asa.

Akhir-akhir ini, setelah gencar ESQ ditingkatkan, sebagai cara melejitkan prestasi anak di masa depan lewat potensi spiritual. AQ muncul sebagai jawaban atas sedihnya hidup orang-orang yg secara karier dan materi sukses, tapi tidak dapat meraih kebahagian akibat rendahnya AQ. Terutama dalam membina hubungan dalam rumah tangga.

AQ adalah indikator untuk melihat :

  • Kemampuan bertahan dalam setiap penderitaan dan tahu cara mengatasi situasi yg membuat penderitaan.
  • Keterampilan untuk menerima & menyelesaikan setiap tantangan.
  • Ilmu tentang ketabahan manusia (Human Resillience).

Perusahaan maju mulai melihat indikator di atas sebagai patokan dalam merekrut karyawan baru. Selain IQ, EQ dan ESQ.

Untuk memberikan gambaran AQ ini, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga jenis :

  • Quitter (Mudah menyerah). Para quitter adalah para pekerja yg sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan saat menerima tantangan.
  • Camper (Berkemah di tengah perjalanan). Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yg berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yg terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yg tidak teraktualisasikan, dan yg jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.
  • Climber (pendaki yg mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yg dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yg menghadang. Namun, dibalik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yg bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan2 tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Tetepi hasil terhebat akan diperoleh jika kita mampu menginstal AQ ini dalam diri putra-putri kita.

Untuk menghasilkan anak dengan ketangguhan seorang Climber yg memiliki AQ tinggi, kita harus memperhatikan 9 aspek perkembangannya:

  • Fisik
  • Kesehatan
  • Daya tahan mental
  • Kestabilan emosi
  • Kemampuan sosial
  • Keimanan
  • Ibadah kepada Tuhan
  • Keterampilan
  • Seksualitas yg normal

So, Smart Parents, mau dibawa ke mana pola asuh yg anda terapkan di rumah sepenuhnya adalah hak Anda. Tetapi untuk menjadikan anak yang tangguh perlu banyak belajar, usaha dan sabar. Sebelum bicara tentang AQ untuk anak kita, mari berkaca dan meyakini sudah sejauh mana kita sendiri mengembangkan AQ diri kita, dan berusaha meningkatkannya, jangan berkontribusi menjadikan anak-anak kita menjadi tokoh dengan karakter Peter Pan dan Cinderella Syndrome.

Semoga bermanfaat.

Be Positive and Get Smarter everyday…!

Sumber berita lain:
https://m.detik.com/health/berita-detikhealth/d-3121654/kenali-ciri-ciri-orang-dengan-peter-pan-syndrome-dan-cinderella-complex

Artikel Peter Pan dan Cinderella Syndrome ini didapat dari sebaran group WA, yang menurut hemat kami layak untuk dibagikan, dengan tidak mengurangi rasa hormat pembuat artikel, kami melakukan sedikit editing dan penyesuaian, terutama pengaturan untuk keyword “Peter Pan dan Cinderella Syndrome” sesuai dengan kaidah penulisan artikel untuk web.